Gambar ketika Bimtek DiSamarinda

mgmp dismkn 2 banjarbaru

mgmp dismkn 2 banjarbaru

Rabu, 21 Desember 2011

IHT (IN HOUSE TRANING) REVISI KTSP SMK NEGERI 1 BANJARBARU TANGGAL 22-24 DESEMBER 2011

SMK Negeri 1 Banjarbaru kembali melaksanakan IHT yang berkaitan dengan KTSP, kegiatan ini diikuti oleh semua unsur yang ada di SMK Negeri 1 Banjarbaru, kecuali Satpam dan penjaga sekolah serta ibu kantin. Ketua Pelaksana kegiatan Ibu Sukristini dalam sambutannya menghimbau agar semua guru selama mengikuti kegiatan jangan meninggalkan ruangan.Dan agar dapat mengikuti dengan baik dan ikhlas.
IHT ini dilaksanakan dalam rang meninjau kembali KTSP yang sudah diberlakukan selama 1 tahun dan diistilahkan oleh panitia dengan Revisi KTSP.
Pembicara yang akan menyampaikan materi ini adalah Kepala SMK N 1 Banjarbaru, Pengawas dari DIKNAS dan Widiaswara LPMP Banjarmasin. Pelaksanaan berlasung selama 3 hari dari tanggal 22 s.d 24 Desember 2011

Selasa, 08 Februari 2011

Ujian Nasional yang Menguji Kejujuran Guru

Ujian Nasional merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Mutu pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam melihat kemajuan suatu negara khususnya dalam bidang pendidikan. Usaha yang dilakukan salah satunya adalah melalui Ujian Nasional.

Minggu, 09 Januari 2011

MAKNA BERBAGI RAPORT

Acara yang rutin dilakukan oleh setiap sekolah adalah menyerahkan laporan hasil belajar siswanya kepada orang tua atau wali setiap berakhirnya pelajaran dalam satu semester. Tujuan dari penyerahan buku laporan ini adalah untuk menjalin komunikasi antara orang tua siswa dengan pihak sekolah sekaligus membicarakan tentang aktifitas anaknya belajar disekolah selama 6 bulan atau satu semester.Hal ini sangatlah penting agar hasil belajar yang dicapai siswa selama disekolah bisa dipantau orang tua dan juga bisa menjadi sarana yang perlu dimanfaatkan oleh orang tua dan sekolah supaya kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan benar-benar dapat bermakna bagi semua pihak khususnya bagi masa depan anak....bersambung

Jumat, 06 Agustus 2010

PERTEMUAN MGMP YANG MENGGAIRAHKAN

Hari ini Sabtu, tanggal 7 Agustus 2010, merupakan hari yang sibuk bagi anggota MGMP Matematika SMK Banjarbaru. Kenapa jadi sibuk karena angota MGMP harus memikirkan bagaimana membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Jumat, 30 Juli 2010

PEMALI BAGI KEPALA SEKOLAH

Jika anda jadi Kepala Sekolah ada beberapa  hal yang diistilahkan oleh orang Banjar Pemali untuk dilakoni oleh seorang Kepala Sekolah. Pemali merupakan sesuatu yang tabu untuk dikerjakan, atau sesuatu yang jika dikerjakan bisa membikin malu bagi dirinya ,keluarga dan orang lain, atau boleh dikatakan Pemali merupakan perbuatan yang menyalahi aturan. Entah aturan tertulis maupun tidak tertulis. Pada masyarakat Banjar istilah pemali paling sering  digunakan untuk menegur seseorang apabila mengerrjakan sesuatu dianggap tidak benar. Contoh, Pemali bagi seorang anak perempuan duduk ditengah lawang. Entah alasannya apa kurang jelas, tapi setiap anak perempuan duduk dimuka lawang maka biasanya orang tuanya menegur dengan menggunakan istilah Pemali.Ada lagi contoh lain Pemali anak tidur Tengkurap dan ditimpali bakal kematian ibunya, Pemali kalau mengaduk nasi centongnya dipukul-pukulkan kepanci, Pemali bagi seorang laki-laki kencing berdiri, pemali..pemali...dsb.
Lalu apa hubungannya Pemali dengan jabatan seorang Kepala Sekolah ?
Selama 15 tahun saya menjadi guru di sekolah ini, banyak hal yang berkenaan dengan protes teman guru tentang aktifitas Kepala Sekolah.Entah itu aktifitas dalam pergaulan sehari-hari, aktifitas yang berhubungan dengan pekerjaannya dll.
Pemali merupakan sesuatu yang hendaknya jangan dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah. Mungkin anda penasaran apalagi saat ini sedang menjabat Kepala Sekolah.
Ada pandangan masyarakat guru yang harus disadari oleh Kepala Sekolah adalah bahwa Kepala Sekolah itu adalah seorang yang sudah pasti bernampilan Rapi, Berwibawa, berjiwa sosial punya kepandaian yang lebih dan pikiran masyarakat guru dan murid ia adalah identik dengan seorang BOS.
Disinilah perlunya kreatifitas seorang Kepala Sekolah untuk mengantisipasi agar sebagian  pandangan itu tidak berubah menjadi sebaliknya.
Kepsek diremehkan, dikucilkan , dianggap sok pintar dan yang paling merugikan adalah diistilahkan orang Banjar "PEMALAR".
Kepsek jangan sama sekali atau pemali memakai gaya orang rendahan yaitu menggunakan istilah "MALARAN". Ini sudah menunjukan bahwa sifat sosial Kepseknya sangat rendah.
Ada beberapa pekerjaan di sekolah yang sering dijadikan objek pembicaraan sebagian guru adalah dalam hal menyediakan sarana dan prasarana atau atribut siswa dalam kegiatan belajar sehari-hari.Seperti penyediaan atribut sekolah, emblem, lokasi, topi, sampai pada seragam sekolah. Nah proyek ini adalah level bawah, Kepsek harus waspada karena ini adalah proyek yang menjebak kredibilitas diri kepsek. Apa pasal ?terkadang tanpa disadari kepsek merasa orang yang paling berwenang , bahwa sekecil apapun yang ada disekolah merupakan daerah kekuasaannya. Akhirnya proyek yang sebenarnya bukan levelnya ditangani sendiri oleh kepsek untuk diambil sendiri keuntungannya dengan alasan hak nya sebagai kepala sekolah, apalagi yang bersangkutan punya kebiasaan dulu dengan mengistilahkan "MALARAN". Nah hal ini lah yang mengawali pemicu ketidakharmonisanya guru dengan Kepsek.
Karena Kepsek itu sudah Level BOS..maka pemali baginya untuk menghandle proyek tingkat bawah tersebut, maka sebaiknyalah proyek itu diserahkan saja pada panitia PSB, atau Koperasi sekolah..toh kalo ada untung maka Kepsek pasti juga akan dapat bagian, dan bahkan paling besar.
Keuntungan dari menghindari ini adalah , imet masyarakat guru tambah baik terhadapnya, pertama dianggap sosial, dermawan tidak pelit dan suka berbagi.
Dari segi sikap Kepsek sebaiknya menghindari sikap "JAIM" alias jaga imet, ingin kelihatan berwibawa tapi memaksakan diri, seperti bersikap cuek terhadap teman guru, jika disapa tidak membalas menyapa, diajak bersalaman dengan berat hati, sulit untuk tersenyum, padahal dulunya murah senyum tapi setelah jadi Kepsek disengaja untuk tidak murah senyum karena takut dianggap tidak berwibawa. Wooo..ini sungguh sangat Pemali bagi seorang Kepsek, karena ia akan terjebak oleh sikapnya sendiri.
Perlu disadari berwibawa itu bukan berarti ditakuti, setiap orang yang ditakuti belum tentu berwibawa.
Perbedaan orang yang ditakuti dengan orang yang berwibawa itu sangat jelas.
Orang yang ditakuti biasanya dalam kepemimpinannya sehari-hari menggunakan berbagai ancaman , seperti misalnya mengancam tidak ngasih tanda tangan jika tugas tidak dilaksanakan, mengancam menunda kenaikan pangkat jika tidak beres dalam administrasi, pokoknya selalu mengandalkan ancaman.Akhirnya guru untuk menghindari masalah terpaksa mengerjakan tugasnya, karena takut tidak ditandatangi, takut gajinya dipotong, takut ini, dan takut itu. Jika bawahannya berprestasi tidak bersedia untuk memberikan penghargaan, dan bahkan mengakui itu adalah bagian dari prestasinya sendiri.Seperti ada kawan yang berhasil mendapatkan sesuatu, komentarnya biasanya "alhamdulillah setelah saya promosikan maka guru yang bersangkutan berhasil menjadi....."ini menunjukkan itu adalah jasa dari kepsek tsb.
Orang yang berwibawa, cara kepemimpinannya adalah melakukan pendekatan kemanusiaan, dia tak segan mengajak, merangkul, memuji, dan bahkan memberi hadiah jika bawahannya berprestasi.Tidak pernah merasa berjasa atas keberhasilan anak buahnya, ia mengakui itulah prestasi yang diraih anak buahnya memang atas kecerdasan orang tsb.
Sebenarnya banyak sekali yang Pemali bagi seorang Kepsek.
Kepsek Pemali, minta imbalan.
Kepsek Pemali, pengen disapa duluan, sapalah org lain lebih dulu, yakin itu tidak menurunkan wibawa anda tapi malah sebaliknya, wibawa kepseknya makin meningkat. Nama baik anda akan menggema kemana-mana
satu orang bisa bercerita kepada 40 orang , buktinya jika guru mengajar maka siswa dikelas nya berjumlah bisa sampai 40 siswa, didalam kelas kebaikan kepseknya diceritakan guru, maka yang 40 tadi bercerita lagi minimal masing-,masing 5 orang dikeluarganya..dan ini akan terus bertambah-..bertambah..jangan heran kalo nama baik anda sampai terdengar ketelinga Presiden. Tapi bagaimana dengan sebaliknya..keburukan yang terdengar ditelinga Presiden. Hancurlah karir anda..jgn sampai hanya seumur jagung.
Uraian diatas hanya sebagian dari renungan yang saya rasakan selama saya jadi guru dan berhadapan dengan beberapa orang Kepala Sekolah, semoga ini bermanfaat dan berguna.Sekiranya pandangan saya ini salah maka anggap uraian ini tidak ada. Terima kasih.

PEMALI BAGI KEPALA SEKOLAH

Jika anda jadi Kepala Sekolah ada beberapa  hal yang diistilahkan oleh orang Banjar Pemali untuk dilakoni oleh seorang Kepala Sekolah. Pemali merupakan sesuatu yang tabu untuk dikerjakan, atau sesuatu yang jika dikerjakan bisa membikin malu bagi dirinya ,keluarga dan orang lain, atau boleh dikatakan Pemali merupakan perbuatan yang menyalahi aturan. Entah aturan tertulis maupun tidak tertulis. Pada masyarakat Banjar istilah pemali paling sering  digunakan untuk menegur seseorang apabila mengerrjakan sesuatu dianggap tidak benar. Contoh, Pemali bagi seorang anak perempuan duduk ditengah lawang. Entah alasannya apa kurang jelas, tapi setiap anak perempuan duduk dimuka lawang maka biasanya orang tuanya menegur dengan menggunakan istilah Pemali.Ada lagi contoh lain Pemali anak tidur Tengkurap dan ditimpali bakal kematian ibunya, Pemali kalau mengaduk nasi centongnya dipukul-pukulkan kepanci, Pemali bagi seorang laki-laki kencing berdiri, pemali..pemali...dsb.
Lalu apa hubungannya Pemali dengan jabatan seorang Kepala Sekolah ?
Selama 15 tahun saya menjadi guru di sekolah ini, banyak hal yang berkenaan dengan protes teman guru tentang aktifitas Kepala Sekolah.Entah itu aktifitas dalam pergaulan sehari-hari, aktifitas yang berhubungan dengan pekerjaannya dll.
Pemali merupakan sesuatu yang hendaknya jangan dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah. Mungkin anda penasaran apalagi saat ini sedang menjabat Kepala Sekolah.
Ada pandangan masyarakat guru yang harus disadari oleh Kepala Sekolah adalah bahwa Kepala Sekolah itu adalah seorang yang sudah pasti bernampilan Rapi, Berwibawa, berjiwa sosial punya kepandaian yang lebih dan pikiran masyarakat guru dan murid ia adalah identik dengan seorang BOS.
Disinilah perlunya kreatifitas seorang Kepala Sekolah untuk mengantisipasi agar sebagian  pandangan itu tidak berubah menjadi sebaliknya.
Kepsek diremehkan, dikucilkan , dianggap sok pintar dan yang paling merugikan adalah diistilahkan orang Banjar "PEMALAR".
Kepsek jangan sama sekali atau pemali memakai gaya orang rendahan yaitu menggunakan istilah "MALARAN". Ini sudah menunjukan bahwa sifat sosial Kepseknya sangat rendah.
Ada beberapa pekerjaan di sekolah yang sering dijadikan objek pembicaraan sebagian guru adalah dalam hal menyediakan sarana dan prasarana atau atribut siswa dalam kegiatan belajar sehari-hari.Seperti penyediaan atribut sekolah, emblem, lokasi, topi, sampai pada seragam sekolah. Nah proyek ini adalah level bawah, Kepsek harus waspada karena ini adalah proyek yang menjebak kredibilitas diri kepsek. Apa pasal terkadang tanpa disadari kepsek merasa orang yang paling berwenang , bahwa sekecil apapun yang ada disekolah merupakan daerah kekuasaannya. Akhirnya proyek yang sebenarnya bukan levelnya ditangani sendiri oleh kepsek untuk diambil sendiri keuntungannya dengan alasan hak nya sebagai kepala sekolah, apalagi yang bersangkutan punya

Minggu, 27 Juni 2010

RSBI

“Program RSBI khususnya SMK saat ini tidak sesuai dengan pemikiran saya sewaktu pertama kali merancang program ini”

Kalimat tersebut menjadi pembuka diskusi sekaligus menyentak saya yang sedang asik menunggu pak Kurnijanto dari Cisco Acdemy bersama beliau di sebuah coffee shop di daerah Jakarta Selatan.

Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan atau disingkat Dikmenjur pada tahun 1998 – 2006 ini kemudian menambahkan, “SMK Internasional sebenarnya bukan dilihat dengan guru yang mengajar bahasa Inggris di sekolah tersebut, tapi dengan target minimal 10% lulusannya mampu bekerja di luar negeri sesuai dengan kompetensi yang diperoleh sewaktu sekolah.”

Direktur Dikmenjur yang masih tetap dapat disebut Direktur Dikmenjur karena saat ini nama institusinya sudah berubah menjadi PSMK ini lalu melanjutkan, “sewaktu merancang program RSBI, saya memiliki keinginan agar minimal 10% pangsa pasar kerja di luar negeri diisi oleh bangsa Indonesia. Coba bayangkan apabila ini terjadi, maka alur devisa akan mengalir ke negara kita, juga tingkat kesejahteraan akan naik pesat, serta jejaring Indonesia akan diperhitungkan di mata dunia.”

Saya manggut-manggut saja mendengarkan penuturan tersebut dan mencoba mencerna, lalu bertanya, “tapi bagaimana dengan kebijakan RSBI saat ini yang terkesan hanya menjadi Sekolah Rintisan Berbiaya Internasional ?”

“Biaya sekolah sebenarnya dapat diperoleh apabila sekolah itu kreatif dan memaksimalkan unit produksi yang dimiliki. Contoh, untuk SMK Pariwisata dapat memaksimalkan hotel training yang dimiliki untuk meneriwa siswa-siswi dari SMK di luar negeri melalui program pertukaran pelajar atau sister scholl. Jadi, pemasukan diperoleh, kerjasama juga dapat tercapai.”

Dari diskusi singkat tersebut saya jadi paham mengenai latar belakang konsep SMK RSBI pada saat itu yang sangat berbeda jauh dengan kondisi saat ini.

Pak Gatot juga bercita-cita, bahwa lulusan SMK itu memiliki komposisi minimal 10% bekerja di luar negeri, 30% bekerja di dalam negeri, 10-20% melanjutkan ke perguruan tinggi, dan selebihnya bisa berwirausaha atau mandiri. Juga, stigma internasional dapat dilekatkan pada sekolah yang bisa mencapai target tersebut.

Program SMK SBI juga tidak ditujukan untuk seluruh jurusan, melainkan pada jurusan atau program keahlian tertentu yang memang dibutuhkan di luar negeri seperti perhotelan, pariwisata, teknologi informasi, perkapalan, dan lain-lain. Bahkan ada satu harapan beliau adalah 10% pegawai hotel di seluruh dunia berasal dari Indonesia. Almarhum bapak Franklin JH. Nanuwasa telah memulai program tersebut melalui IHS Makassar-nya.

Proses pembelajaran bilingual atau dua bahasa juga tidak perlu diterapkan, yang penting adalah lulusan harus mampu berkomunikasi dengan baik dan benar menggunakan salah satu bahasa Internasional sesuai dengan tujuan dan kerjasama dari sekolah tersebut. Jadi intinya adalah penguasaan terhadap bahasa dari lulusannya, bukan gurunya yang harus mengajar menggunakan dua bahasa. Bukankah hakekat bahasa adalah untuk berkomunikasi ?

Contoh lain dari program Internasional ini untuk jurusan TIK di SMK adalah upaya Pak Gatot untuk memasukkan berbagai sertifikasi Internasional dalam kurikulum pendidikan. Contohnya adalah CCNA. Dengan memiliki kemampuan dan memiliki sertifikat CCNA, seorang tamatan SMK akan mampu untuk bersaing dalam bidang jaringan dengan siapapun di seluruh dunia, karena CCNA di Indinesia itu sama dengan CCNA di Amerika.

Jadi, mengapa justru SBI saat ini justru menjadi “Sekolah Berbiaya Internasional ?”